Gulai Belacan Pekanbaru Punya Aroma Tajam yang Khas, Ternyata Ada Pengaruh Budaya di Balik Rasanya
Kalau ngomongin kuliner khas Pekanbaru, Gulai Belacan jelas punya karakter yang nggak kaleng-kaleng. Dari namanya saja sudah ketahuan kalau belacan alias terasi menjadi salah satu pemain penting dalam hidangan ini. Biasanya gulai belacan dibuat dengan udang atau ikan, kemudian dimasak bersama santan dan berbagai rempah seperti cabai, serai, lengkuas, serta kunyit. Hasilnya? Kuah yang gurih, pedas, creamy, sekaligus punya aroma belacan yang cukup tajam. Buat yang belum terbiasa, aromanya mungkin terasa “nyeruduk” hidung. Tapi justru karakter kuat itulah yang bikin gulai belacan punya identitas sendiri sebagai bagian dari kuliner Melayu Riau.
Ada beberapa hal menarik yang bikin gulai belacan bukan sekadar gulai biasa:
1. Belacannya Jadi “Jantung” Rasa
Belacan atau terasi dibuat dari bahan hasil laut berukuran kecil yang melalui proses penggaraman dan fermentasi. Proses tersebut menghasilkan aroma dan rasa gurih yang kuat. Jadi, aroma tajam pada gulai bukan muncul tanpa alasan, melainkan memang berasal dari karakter belacan yang menjadi bumbu utama.
2. Ada Jejak Budaya Melayu Pesisir
Penggunaan belacan punya hubungan erat dengan tradisi kuliner Melayu. Di kawasan Riau yang memiliki hubungan kuat dengan sungai dan wilayah pesisir, hasil laut kemudian diolah menjadi bahan makanan yang bisa digunakan sebagai penyedap. Gulai belacan akhirnya menjadi salah satu bentuk bagaimana bahan lokal dan kebiasaan memasak masyarakat Melayu bertemu dalam satu hidangan.
3. Sering Muncul Saat Momen Kumpul
Gulai belacan juga nggak cuma soal makan kenyang. Dalam tradisi Melayu, hidangan ini dapat hadir dalam acara keluarga, perayaan, maupun kegiatan adat. Artinya, makanan tersebut punya fungsi sosial karena disantap bersama-sama dalam suasana berkumpul.
4. Santan Bikin Aromanya Makin “Nyatu”
Santan memberikan tekstur creamy sekaligus membantu menyatukan rasa rempah dan belacan. Ketika bumbu dimasak hingga matang, aroma tajam belacan berpadu dengan gurihnya santan dan rasa pedas cabai. Makanya, karakter akhirnya bukan cuma bau terasi, tetapi menjadi rasa gurih-pedas yang lebih kompleks.
Kalau dilihat dari sisi ilmiah, aroma kuat pada belacan berkaitan dengan proses fermentasi. Fermentasi mengubah komponen bahan baku dan menghasilkan berbagai senyawa yang berkontribusi terhadap aroma serta rasa umami. Itu sebabnya belacan punya karakter yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar udang atau ikan segar. Menariknya, budaya juga ikut menentukan bagaimana aroma tersebut diterima. Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau mencatat bahwa belacan dalam tradisi Melayu memiliki karakter pengolahan dan selera yang berbeda dari terasi Jawa. Jadi, dari perspektif urban, gulai belacan bisa dilihat sebagai contoh bagaimana makanan tradisional tetap bertahan ketika selera masyarakat terus berubah. Aroma yang dulu mungkin dianggap bagian biasa dari dapur pesisir justru sekarang menjadi identitas kuliner yang dicari orang ketika ingin merasakan karakter Melayu Riau.
Pada akhirnya, Gulai Belacan Pekanbaru bukan cuma soal kuah santan, udang, dan terasi. Di balik aromanya yang tajam, ada cerita tentang bahan pangan lokal, budaya Melayu, tradisi pesisir, dan kebiasaan makan bersama. Jadi kalau suatu hari mencium aroma belacan yang langsung bikin hidung “melek”, jangan buru-buru menjauh. Bisa jadi, di situlah letak rasa khas Riau yang sebenarnya.