Sate Lilit Singaraja Tidak Ditusuk Seperti Sate Biasa, Cara Melilit Dagingnya Justru Jadi Ciri Khas Utama
Kalau biasanya sate identik dengan potongan daging yang ditusuk satu per satu pakai bambu, beda cerita kalau lagi ngomongin Sate Lilit di Singaraja, Bali. Kuliner yang juga dikenal dalam tradisi kuliner Bali Utara ini justru punya gaya sendiri yang bikin orang langsung bisa mengenalinya. Dagingnya nggak ditusuk seperti sate ayam pada umumnya, melainkan dicincang atau dihaluskan terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan bumbu dan dililitkan pada batang bambu pipih atau batang serai. Salah satu jenis yang cukup dikenal di kawasan Singaraja adalah sate languan, yakni sate lilit berbahan dasar ikan laut yang diolah bersama rempah khas Bali. Nama “lilit” sendiri memang berasal dari teknik membalut adonan daging mengelilingi batang tersebut. Jadi, kalau bentuknya sekilas kelihatan seperti sate biasa, cara bikinnya ternyata punya cerita sendiri.
Ada beberapa hal yang bikin Sate Lilit Singaraja menarik dan nggak sekadar “sate tapi beda bentuk”.
1. Dagingnya nggak dipotong kotak-kotak. Daging atau ikan terlebih dahulu dicincang halus sehingga teksturnya lebih menyatu dengan bumbu.
2. Cara membentuknya benar-benar dililit. Adonan ditempelkan dan ditekan mengelilingi batang bambu atau serai sampai membentuk lapisan memanjang. Teknik inilah yang menjadi identitas utama sate lilit.
3. Bumbunya sudah menyatu dengan daging. Berbeda dari beberapa sate yang mengandalkan saus setelah dibakar, sate lilit biasanya sudah membawa rasa gurih dan rempah dari adonan. Bumbu khas Bali seperti bawang, cabai, kunyit, kencur, jahe, lengkuas, dan rempah lainnya bisa ikut memberikan karakter yang kuat.
4. Batang serai bisa ikut menyumbang aroma. Saat terkena panas bara, aroma dari serai bisa keluar dan bercampur dengan wangi daging serta rempah.
5. Versi Singaraja punya kedekatan dengan hasil laut. Sate languan misalnya, menggunakan ikan laut yang dagingnya cukup padat sehingga cocok diolah menjadi adonan sate.
Kalau dilihat dari sisi kuliner dan ilmu pangan, teknik melilit ini sebenarnya cukup masuk akal. Daging yang dicincang atau dihaluskan mempunyai ukuran partikel lebih kecil dibanding potongan daging utuh, sehingga bumbu lebih mudah tercampur secara merata ke seluruh adonan. Ketika adonan kemudian ditempelkan mengelilingi batang, bentuknya menjadi relatif tipis dan memanjang sehingga panas dari proses pembakaran bisa mengenai permukaan daging dari berbagai sisi. Proses pemanggangan juga memunculkan reaksi pencokelatan pada permukaan makanan yang membantu menghasilkan aroma dan rasa panggang yang khas. Ditambah lagi, bumbu sudah berada di dalam adonan, jadi setiap gigitan bisa langsung membawa rasa rempah tanpa harus bergantung pada saus tambahan. Dari sudut pandang urban, konsep seperti ini juga menarik karena satu teknik tradisional bisa tetap relevan dengan gaya makan sekarang: praktis, gampang disantap, punya tampilan unik, tetapi tetap membawa identitas lokal. Sate lilit sendiri juga bukan cuma soal makanan, karena dalam budaya Bali keberadaannya berkaitan dengan tradisi dan berbagai kegiatan adat.
Pada akhirnya, daya tarik Sate Lilit Singaraja bukan cuma terletak pada rasa gurih atau aroma rempahnya. Justru cara dagingnya dililit pada batang menjadi identitas yang membuat kuliner ini beda dari sate kebanyakan. Jadi, kalau suatu saat nemu sate yang dagingnya malah “dipeluk” batang serai atau bambu, jangan buru-buru bilang aneh. Bisa jadi itu justru salah satu bentuk keren dari warisan kuliner Bali yang masih bertahan sampai sekarang.